Showing posts with label Dunia Flora. Show all posts
Showing posts with label Dunia Flora. Show all posts

Sunday, January 8, 2012

Taman Surganya di Jepang ((SEGEERRRR))


Sebuah taman bunga yang Terletak di Ashikaga Tochigi o.Honsyu.
TAMAN bunga.... Mendengar kata ini, Anda pasti membayangkan bunga berwarna-warni dalam pengaturan taman yang indah, rapi, dan bersih. Semua bayangan ini bisa terwujud apabila Anda berkunjung ke Taman Bunga Ashikaga di kota Ashikaga, Jepang.

Selain pengaturan taman yang indah dan rapi khas Jepang, Anda bisa menikmati keindahan bunga favorit di sini yaitu bunga cinta Jepang dan wisteria. Wisteria sendiri disebut fuji dalam bahasa Jepang.

Taman Bunga Ashikaga juga merupakan tempat terbaik untuk menikmati keindahan bunga fuji. Di sini, Anda akan melihat fitur warna biru, putih dan merah jambu dari bunga fuji.

Saat jalan-jalan di taman, Anda akan menemukan sebuah pohon besar fuji yang berusia 100 tahun dimana cabang-cabangnya menjadi penyangga untuk bunga fuji berwarna biru. Ada juga sebuah terowongan panjang yang dipenuhi dengan bunga fuji berwarna putih.

Bunga fuji di Taman Bunga Ashikaga biasanya mekar pada awal Mei. Karena taman ini dianggap sebagai salah satu tempat terbaik untuk melihat bunga fuji di Jepang maka suasananya bisa sangat ramai bahkan di hari kerja selama musim puncak.

Selain fuji, Anda akan menemukan jenis bunga lainnya, restoran dan toko yang menjual tanaman dan produk lokal. Namun sayang, di Taman Bungan Ashikaga tidak ada deskripsi bahasa Inggris dan pengunjung asing sangat sedikit.

Biaya masuk taman ini tergantung pada keindahan musim, namun biasanya sekitar 1000 Yen (sekitar Rp107 ribu) untuk orang dewasa selama musim puncak fuji.

Untuk akses menuju Taman Bunga Ashikaga dari Tokyo, Anda bisa menggunakan beberapa alternatif transportasi. Pertama, Anda bisa mengambil jalur Isesaki Tobu dari terminal Tokyo Tobu di Asakusa menuju Tobu Ashikaga Station. Dari tempat ini, perjalanan ke taman dilanjutkan dengan berjalan kaki selama sekitar 20 menit.

Bila ingin menggunakan kereta, Anda bisa naik Ryomo Limited Express yang memakan waktu sekitar 70 menit dengan biaya 1940 Yen (sekitar Rp208 ribu). Atau menggunakan kereta api yang lebih lambat, tetapi hanya membayar 940 Yen (sekitar Rp101 ribu)



Penampakannya nih Gan...






















Penampakan di Waktu Malam Hari.....





sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5192312

Tuesday, December 27, 2011

desain POT UNIK ANTI GRAVITASI ! ..cekidott...


These unusual planters can save you some space.

The unique upside-down planters designed by Patrick Morris don’t sacrifice your floor space. The self-watering pot of the Boskke Sky Planter reduces the frequency with which you’ll need to water your plants.The upside-down plant and soil are held in place by a locking disc and mesh. The water goes straight to the roots thanks to the internal reservoir system.






Sunday, December 25, 2011

Foto Foto Pohon Raksasa Jaman Dahulu

Foto Foto Pohon Raksasa Jaman Dahulu



Percaya ato ngga pohon pohon raksasa ini pernah tumbuh di Bumi ini puluhan tahun yang lalu
sekarang mungkin anak cucu kita, bahkan kita sendiri jarang banget bisa ngeliat Pohon pohon raksasa kaya ini secara langsung.
alesannya pada taulah kenapa. tepat. karena banyaknya penebangan hutan liar tanpa mempertimbangkan ekosistem alam, pembangunan gedung gedung besar tanpa perencanaan yang baik dan memperhatikan lingkungan dan alesan lainnya yang intinya adalah mulai pudarnya kesadaran menjaga keseimbangan manusia dengna alam sekitar. yah, mungkin sebelum kita bener bener ngga bisa lagi ngeliat pohon pohon gede (semoga engga ) boleh deh diliat foto foto pohon raksasa yang pernah tumbuh menjulang dengan angkuh di permukaan bumi ini

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

Spoiler for huge:

udah liat gan? mirisnya ternyata pohon pohon yang sekarang udah nyaris susah banget diliat secara langsung pun ternyata dari dulu udah ditebangin. yah ngga tau sih alesannya apa, mungkin emang diperluin buat bangunan ato benda lain yang emang berbahan dasar kayu. tapi miris aja liatnya pohon yang mungkin usianya udah puluhan taun ditebang gitu aja buat kepentingan komersil.
yang jelas semoga generasi Indonesia nanti masih bisa ngeliat pohon yang bener bener gede secara langsung
bukan dari buku bergambar ato cerita kakek nenek mereka
dan mereka masih meyakini kalo pohon itu adalah makhluk hidup berakar dan punya batang serta daun, bukan bangunan tinggi menjulang ke langit lengkap dengaa warna warna mencolok dan orang jualan segala macem di dalemnya




sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6779553

Thursday, December 22, 2011

Meneliti Bibit Jati Unggulantulle

Petugas laboratorium memeriksa bibit pohon Jati yang berumur 2 minggu di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (lipi) bidang Botani dan Mikrobiologi, Cibinong, Bogor, Kamis (22/12). Bibit pohon jati yang berumur 2 minggu dapat di kembangbiakan dengan cara memotong batang dan di tamam kembali didalam media rumah kaca (toples) agar mendapatkan temperatur yang sesuai dan cepat berkembang. TEMPO/Dasril Roszandi
Petugas laboratorium memeriksa bibit pohon Jati yang berumur 2 minggu di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Botani dan Mikrobiologi, Cibinong, Bogor, Kamis (22/12). Bibit pohon jati yang berumur 2 minggu dapat di kembangbiakan dengan cara memotong batang dan di tamam kembali didalam media rumah kaca (toples) agar mendapatkan temperatur yang sesuai dan cepat berkembang. TEMPO/Dasril Roszandi
Petugas laboratorium memeriksa bibit pohon Jati yang berumur 2 minggu di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Botani dan Mikrobiologi, Cibinong, Bogor, Kamis (22/12). Bibit pohon jati yang berumur 2 minggu dapat di kembangbiakan dengan cara memotong batang dan di tamam kembali didalam media rumah kaca (toples) agar mendapatkan temperatur yang sesuai dan cepat berkembang. TEMPO/Dasril Roszandi
Petugas menanam bibit pohon Jati yang berumur 2 bulan di perkenbunan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Botani dan Mikrobiologi, Cibinong, Bogor, Kamis (22/12). Bibit pohon jati yang berumur 2 minggu dapat di kembangbiakan dengan cara memotong batang dan di tamam kembali didalam media rumah kaca (toples) agar mendapatkan temperatur yang sesuai dan cepat berkembang. TEMPO/Dasril Roszandi
Petugas membersihkan bibit pohon Jati yang berumur 4 bulan di perkenbunan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bidang Botani dan Mikrobiologi, Cibinong, Bogor, Kamis (22/12). Bibit pohon jati yang berumur 2 minggu dapat di kembangbiakan dengan cara memotong batang dan di tamam kembali didalam media rumah kaca (toples) agar mendapatkan temperatur yang sesuai dan cepat berkembang. TEMPO/Dasril Roszandi
 http://www.tempo.co/read/beritafoto/1061/Meneliti-Bibit-Jati-Unggulan








sumber :

Jamur Hantu, Bersinar Dalam Gelap

  Orang yang tidak tahu mungkin awalnya bakal mengira sebagai hantu saat melihatnya. Jamur tertentu, yang tentu saja hidup di tempat-tempat yang lembab, dapat berpendar dalam 
kegelapan. Beberapa jenis jamur yang tumbuh di hutan tropis Taman Wisata Nasional Lembah Ribeira, dekat Sao Pulo, Brazil memendarkan cahaya saat sekitarnya gelap. Jamur-jamur tersebut memiliki kemampuan bioluminescent karena reaksi kimia di tubuhnya menghasilkan cahaya berwarna hijau.

 

Jamur-jamur yang ditemukan di Brazil itu termasuk dalam genus Mycena. Di seluruh dunia terdapat sekitar 500 jenis jamur yang masuk ke dalam genus ini, tapi hanya 33 persen yang memiliki kemampuan bioluminescent.
Ada lebih dari 10 jenis jamur bioluminescent yang baru ditemukan di Brazil sejak 2002, empat di antaranya merupakan spesies yang belum diketahui sebelumnya. Temuan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan Cassius Stevani, profesor kimia dari Universitas Sao Paulo, Dennis Desjardin, profesor ilmu jamur dari Universitas Negeri San Fransisco California, dan Marina Capelari dari Institut Botani Brazil. "Penemuan ini telah menambah jumlah jamur berpendar, yang diketahui sejak 1970-an, menjadi 30 persen lebih banyak," ujar Stevani.